Pada paruh pertama abad ke-18 hidup seorang hamba Tuhan bernama Jonathan Edwards. Ia menikah dengan seorang gadis yang takut akan Tuhan. Kemudian mereka berdua menjadi misionaris di India.
Pada masa yang sama, hidup pula seorang atheis bernama Max Jukes yang menikah dengan sesama atheis. Setelah beberapa generasi terlihat nyata perbedaan di antara kedua keluarga tersebut.
Dari keluarga Jukes (sang atheis) lahir 310 orang yang mati sebagai gembel, 150 orang penjahat, 7 orang pembunuh, dan 100 orang pemabuk berat. Selain itu, hampir separuh keturunan mereka menjadi pelacur, dan 540 orang menjadi beban negara yang memboroskan keuangan negara tak kurang dari US$ 250.000.
Sedangkan dari keluarga Edwards (sang hamba Tuhan) lahir 13 orang rektor, 65 profesor, 3 senator AS, 30 hakim, 100 pengacara, 60 dokter, 75 perwira angkatan darat dan laut, 100 penginjil dan pendeta, 60 penulis terkenal dalam disiplin ilmu masing-masing, 1 wakil presiden AS, 80 pemuka masyarakat, dan 195 alumnus universitas yang menjadi gubernur dan menteri. Tak seorang pun dari 1.394 keturunan mereka yang didata memboroskan dan menjadi beban keuangan negara, satu sen pun tidak.
Ternyata gaya hidup suami istri sangat menentukan kualitas keturunan mereka.
Sumber: The Broadcaster (Buletin YASKI), Volume 37, Januari 2007, hlm. 9.
20 Maret 2007
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
2 comments:
Hello Paulus,
Sangat kebetulan pada tanggal 21 Maret aku tulis article "Keadilan Dalam Rumah Tanggah (http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=81). Tulisan Paulus melengkapi apa yang aku tidak lihat, yaitu "akar" dari suatu kelurga terbukti menentukan kwalitas keturunan selanjutnya.
Dalam konteks ini, agaknya perjodohan (arrange married) yang dilakukan oleh orang tua jaman dulu mempunyai kebenaran karena mereka menseleksi asul usul keluarga ("akar keluarga"). Kemudian baru memutuskan bahwa orang tersebut cocok untuk jadi mantunya.
Artikel ini bagus. Teruslah berkarya.
Beni Bevly
http://www.overseasthinktankforindonesia.com/?p=81
Beni,
Terima kasih atas komentarnya. Saya sudah baca artikel yang anda maksud. Saya juga sudah meninggalkan komentar di bagian comment artikel tersebut.
Bagi teman-teman yang ingin membaca artikel tersebut, silakan klik huruf pertama pada nama Beni Bevly yang terpampang di bagian atas komentarnya.
Salam,
Paulus
Poskan Komentar